
Anak mengalami demam setelah imunisasi sering kali membuat orang tua khawatir. Apalagi jika si kecil menjadi lebih rewel, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan. Tidak sedikit orang tua yang langsung bertanya-tanya apakah kondisi tersebut berbahaya atau justru merupakan reaksi yang biasa terjadi setelah vaksinasi.
Kabar baiknya, demam ringan setelah imunisasi dapat menjadi salah satu reaksi tubuh yang umum terjadi. Biasanya, keluhan ini akan membaik dalam beberapa hari. Meski begitu, orang tua tetap perlu memantau kondisi anak karena tidak semua demam setelah imunisasi pasti disebabkan oleh vaksin.
Lantas, bagaimana membedakan reaksi yang normal dengan tanda bahaya? Berikut penjelasan yang perlu diketahui setiap orang tua bersama sehatoria.
Mengapa Anak Bisa Demam Setelah Imunisasi?
Imunisasi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali penyebab penyakit tertentu dan membentuk perlindungan terhadapnya. Ketika vaksin diberikan, tubuh dapat memberikan respons yang terkadang menimbulkan gejala sementara, seperti demam, nyeri, atau pembengkakan di area suntikan.
Reaksi tersebut dikenal sebagai bagian dari kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), yaitu kondisi medis yang muncul setelah imunisasi dan perlu dinilai untuk mengetahui penyebabnya.
Menurut informasi Kementerian Kesehatan RI, demam ringan, kemerahan, nyeri, dan pembengkakan ringan merupakan reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi dan umumnya mereda dalam sekitar dua hingga tiga hari.
Namun, waktu munculnya demam dan jenis reaksinya dapat berbeda bergantung pada vaksin yang diberikan. Demam yang terjadi setelah imunisasi juga bisa disebabkan oleh infeksi atau kondisi lain yang kebetulan muncul pada waktu bersamaan.
Reaksi yang Umum Terjadi Setelah Imunisasi
Selain demam, ada beberapa reaksi yang mungkin dialami anak setelah menerima vaksin. Berikut beberapa di antaranya.
1. Demam ringan
Suhu tubuh anak dapat meningkat setelah imunisasi. Jika anak masih merespons dengan baik, tetap mau minum, dan tidak menunjukkan tanda bahaya, orang tua dapat memantau kondisinya sambil memberikan perawatan yang sesuai.
Gunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh, bukan hanya mengandalkan sentuhan tangan. Catat suhu dan waktu pengukuran agar perubahan kondisi anak lebih mudah dipantau.
2. Nyeri atau bengkak di area suntikan
Bagian tubuh yang disuntik mungkin terasa nyeri, kemerahan, atau sedikit membengkak. Kondisi ini biasanya bersifat sementara.
Orang tua dapat menggunakan kain bersih yang dibasahi air sejuk untuk membantu meredakan ketidaknyamanan pada area suntikan. Hindari memijat, menggosok, atau menekan bekas suntikan terlalu keras.
3. Anak menjadi rewel
Rasa tidak nyaman setelah imunisasi dapat membuat anak lebih mudah menangis atau ingin terus digendong. Berikan perhatian, pelukan, dan suasana yang tenang agar anak merasa nyaman.
4. Nafsu makan menurun
Sebagian anak mungkin makan lebih sedikit daripada biasanya. Selama anak masih mampu minum dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi, orang tua dapat menawarkan ASI, susu, atau cairan sesuai usia secara lebih sering.
Jangan memaksa anak menghabiskan makanan ketika sedang tidak nyaman. Utamakan kecukupan cairan dan pantau kondisi umumnya.
5. Anak tampak lebih lelah
Anak bisa terlihat lebih mengantuk atau kurang aktif untuk sementara waktu. Berikan kesempatan untuk beristirahat, tetapi pastikan anak tetap mudah dibangunkan dan memberikan respons seperti biasanya.
Jika anak sulit dibangunkan atau kesadarannya menurun, jangan menganggapnya sebagai kelelahan biasa. Segera cari pertolongan medis.
Cara Merawat Anak yang Demam Setelah Imunisasi
Jika anak mengalami demam ringan tanpa tanda bahaya, beberapa langkah berikut dapat membantu membuatnya lebih nyaman.
Pertama, pantau suhu tubuh secara berkala. Gunakan termometer dan catat hasilnya. Perhatikan juga apakah anak masih mau minum, buang air kecil seperti biasa, dan merespons saat diajak berinteraksi.
Kedua, cukupi kebutuhan cairan. Berikan ASI lebih sering kepada bayi yang menyusu. Untuk anak yang lebih besar, tawarkan minuman sesuai usia dan kebutuhannya.
Ketiga, kenakan pakaian yang nyaman. Hindari pakaian atau selimut berlapis-lapis yang dapat membuat panas tubuh sulit keluar. Jaga ruangan tetap nyaman dan tidak terlalu panas.
Keempat, biarkan anak beristirahat. Tidak perlu memaksanya bermain atau melakukan aktivitas berat ketika sedang tidak enak badan.
Kelima, konsultasikan penggunaan obat. Jika anak tampak kesakitan atau demam membuatnya tidak nyaman, tanyakan kepada dokter atau tenaga kesehatan mengenai obat penurun panas yang sesuai. Dosis harus berdasarkan usia, berat badan, dan petunjuk tenaga kesehatan. Jangan memberikan aspirin kepada anak tanpa instruksi dokter.
Hindari mengoleskan alkohol pada tubuh anak atau menggunakan air es untuk menurunkan demam.
Kenali Tanda Bahaya Setelah Imunisasi
Walaupun reaksi ringan umumnya dapat membaik dengan sendirinya, orang tua perlu mengenali gejala yang membutuhkan pertolongan medis.
Segera bawa anak ke instalasi gawat darurat jika muncul tanda berikut:
- Kesulitan bernapas, mengi, atau pembengkakan pada wajah, bibir, maupun lidah.
- Kejang atau penurunan kesadaran.
- Anak sangat sulit dibangunkan, tampak lemas sekali, atau tidak merespons seperti biasanya.
- Bibir tampak kebiruan atau kondisi anak memburuk dengan cepat.
Hubungi dokter atau fasilitas kesehatan sesegera mungkin jika demam tinggi, demam tidak membaik, keluhan semakin berat, anak tidak mau minum, atau jumlah buang air kecil berkurang.
Bayi berusia di bawah tiga bulan dengan suhu tubuh 38°C atau lebih harus segera mendapatkan penilaian medis, termasuk jika demam muncul setelah imunisasi. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena menganggap demam tersebut merupakan reaksi vaksin.
Apakah Demam Berarti Imunisasi Tidak Aman?
Demam ringan tidak otomatis berarti vaksin berbahaya atau imunisasi gagal. Reaksi setiap anak dapat berbeda, bahkan ada anak yang tidak mengalami keluhan apa pun setelah vaksinasi.
Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi telah melalui proses penilaian keamanan dan terus dipantau. Manfaat imunisasi dalam membantu mencegah penyakit serius tetap penting bagi kesehatan anak.
Meski demikian, setiap gejala yang berat atau tidak biasa perlu diperiksa. Hubungan waktu antara imunisasi dan munculnya keluhan belum tentu membuktikan bahwa vaksin merupakan penyebabnya. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat.
Orang tua juga sebaiknya mencatat jenis vaksin, waktu pemberian, suhu tubuh, serta gejala yang dialami anak. Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan melakukan evaluasi jika diperlukan.
FAQ Seputar Demam Setelah Imunisasi
Apakah demam setelah imunisasi merupakan hal yang normal?
Demam ringan merupakan salah satu reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi. Biasanya keluhan membaik dalam beberapa hari. Namun, kondisi anak dan tanda penyerta tetap perlu diperhatikan.
Berapa lama demam setelah imunisasi biasanya berlangsung?
Demam ringan umumnya mereda dalam sekitar dua hingga tiga hari, meskipun waktunya dapat berbeda menurut jenis vaksin. Jika demam menetap, semakin tinggi, atau disertai gejala berat, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Bolehkah anak dimandikan setelah imunisasi dan saat demam?
Anak umumnya boleh mandi jika kondisinya nyaman dan tidak ada larangan khusus dari tenaga kesehatan. Gunakan air dengan suhu nyaman, hindari air terlalu dingin, dan segera keringkan tubuhnya.
Apakah anak boleh diberi obat penurun panas setelah imunisasi?
Obat dapat dipertimbangkan jika diperlukan, tetapi jenis dan dosisnya harus sesuai dengan usia, berat badan, serta kondisi anak. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan dan jangan memberikan obat secara sembarangan.
Kapan anak harus segera dibawa ke dokter?
Segera cari pertolongan jika anak mengalami kesulitan bernapas, kejang, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. Bayi di bawah tiga bulan dengan suhu 38°C atau lebih juga perlu segera diperiksa.
Kesimpulan
Demam setelah imunisasi dapat menjadi reaksi sementara yang umum terjadi pada anak. Orang tua dapat membantu si kecil dengan memantau suhu, mencukupi cairan, memberikan waktu istirahat, dan mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Namun, jangan mengabaikan demam tinggi, gejala yang semakin berat, atau tanda bahaya lainnya. Mengenali perbedaan antara reaksi ringan dan kondisi yang memerlukan pertolongan medis membantu orang tua mengambil keputusan dengan lebih tenang dan tepat.
Imunisasi tetap menjadi bagian penting dari upaya melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Jika ragu terhadap kondisi si kecil setelah vaksinasi, konsultasikan langsung kepada dokter atau fasilitas kesehatan.



